Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Tumor Mediastinum di Ruang Rawat Inap Bougenville RSUP Dr. Ben Mboi

Eugenius Kopong Lamen, PO5303201230743 (2026) Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Tumor Mediastinum di Ruang Rawat Inap Bougenville RSUP Dr. Ben Mboi. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Kupang.

[img] Text
KTA Elan_Cover.pdf
Restricted to Registered users only

Download (705kB) | Request a copy
[img] Text
KTA Elan_BAB 1.pdf

Download (165kB)
[img] Text
KTA Elan_BAB 2.pdf

Download (533kB)
[img] Text
KTA Elan_BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (434kB) | Request a copy
[img] Text
KTA Elan_BAB 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (160kB) | Request a copy
[img] Text
KTA Elan_Daftar Pustaka & Lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (520kB) | Request a copy

Abstract

Tumor mediastinum, khususnya massa anterior yang besar, dapat menyebabkan kompresi trakeobronkial yang mengakibatkan pola napas tidak efektif. Diagnosa keperawatan pola napas tidak efektif didefinisikan sebagai inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat untuk tubuh. Pada pasien tumor mediastinum, kondisi ini terjadi akibat obstruksi jalan napas oleh pembesaran massa tumor, edema mediastinum, atau sindrom vena kava superior. Batasan karakteristik meliputi data subjektif (dispnea, ortopnea, sesak napas) dan objektif (takipnea, bradipnea, penggunaan otot bantu napas, pernapasan cuping hidung, perubahan kedalaman napas, bunyi napas adventif, penurunan vesikuler, batuk, sianosis, saturasi oksigen <95%). Faktor terkait mencakup kelelahan, obesitas, ansietas, nyeri, dan sekresi bronkial berlebihan. Tujuan asuhan keperawatan adalah pasien menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi 12-20 kali/menit, kedalaman normal, saturasi oksigen ≥95%, tidak ada dispnea atau penggunaan otot bantu napas, dan gas darah arteri dalam batas normal. Intervensi keperawatan prioritas meliputi: (1) Posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk meningkatkan ekspansi paru; (2) Pemberian oksigen sesuai indikasi dengan monitoring saturasi oksigen kontinyu; (3) Auskultasi bunyi napas setiap 2-4 jam untuk mendeteksi perubahan; (4) Edukasi teknik pernapasan pursed-lip dan diafragmatik untuk meningkatkan ventilasi; (5) Penggunaan spirometri insentif setiap 1-2 jam saat terjaga; (6) Kolaborasi pemberian bronkodilator, kortikosteroid, atau analgesik sesuai indikasi; (7) Monitoring tanda vital dan status respirasi; (8) Manajemen sekresi dengan fisioterapi dada, teknik batuk efektif dengan splinting; dan (9) Koordinasi dengan tim anestesi untuk persiapan intubasi darurat jika terjadi dekompensasi respirasi. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan melalui observasi perbaikan frekuensi napas, saturasi oksigen, penurunan dispnea, kemampuan melakukan aktivitas tanpa sesak, dan hasil analisa gas darah yang membaik

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: pola napas tidak efektif, tumor mediastinum, dispnea, intervensi keperawatan, manajemen respirasi
Subjects: L Education > LB Theory and practice of education
R Medicine > RB Pathology
R Medicine > RT Nursing
Divisions: Jurusan Keperawatan > Program Studi DIII Keperawatan
Jurusan Keperawatan > Program Studi DIII Keperawatan
Program Studi DIII Keperawatan
Program Studi DIII Keperawatan
Program Studi DIII Keperawatan
Depositing User: Eugenius Kopong Lamen
Date Deposited: 09 Jun 2026 04:58
Last Modified: 09 Jun 2026 04:58
URI: http://repository.poltekeskupang.ac.id/id/eprint/10198

Actions (login required)

View Item View Item